'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Anis Aprianingsih, Kader ‘Aisyiyah Pegiat Lingkungan Dari Banyumas
Home » Berita

Penulis : Dini Nur Afifah (LLHPB PDA BANYUMAS)

Covid-19 telah banyak merubah pola hidup masyarakat sejak beberapa bulan terakhir.  Dulunya kita bebas untuk beraktivitas di luar rumah, namun saat ini banyak peraturan physical distancingyang harus kita patuhi. Misalnya saja, kegiatan berbelanja di pasar. Dulu ketika Corona belum mewabah, kondisi pasar tradisional cukup ramai, terutama saat Ramadhan. Tapi saat ini banyak pasar tradisional yang terpaksa dibatasi operasionalnya untuk mencegah penularan Covid-19. Konsumen pun saat ini merasa was-was saat harus berbelanja di pasar, karena khawatir akan tertular virus. Harga beberapa komoditas pangan juga mengalami kenaikan akibat terhambatnya proses distribusi. Menghadapi situasi seperti ini, tentu saja bunda dituntut lebih kreatif untuk dapat memenuhi kebutuhandasar rumah tangga. Contoh mudah yang bisa bunda lakukan di rumah adalah memanfaatkan halaman rumah untuk ditanami sayur, buah, dan obat herbal. Hasil panen dari kebun nantinya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan harian, sehingga uang belanja dapat dipangkas. Selain itu kegiatan berkebun dapat dijadikan media bagi bunda untuk menghilangkan stres dan kejenuhan.

Salah satu sosok inspiratif bagi ‘Aisyiyah Banyumasdi bidang lingkungan adalah Anis Aprianingsih. Anis Aprianingsih, atau yang biasa disapa Bunda Anis ini adalah anggota Corps Relawan LLHPB PDA Banyumas.Wanita kelahiran Wates, Kulon Progo ini dikenal sebagai sosok yang aktif dalam berbagai organisasi kewanitaan. Selain aktif di PCA Purwokerto Utara dan PKK, ia juga aktif  sebagai anggota Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-Kanak Islam (GOPTKI). Bahkan beliau pernah menjadi ketua penyelenggara TK ABA VIII. Salah satu hobi Bunda Anis adalah merawat tanaman.Kecintaannya terhadap tanaman dimulai semenjak suaminya sering mengalami ketidakcocokan terhadap obat-obatan medis, sehingga perlu beralih ke obat-obatan herbal.

Berawal dari hal tersebutlah kemudian beliau mulai memelihara berbagai jenis tanaman,  mulai dari buah, herbal, sayuran, bahkan tanaman hias di halaman rumahnya. Sebelum bermukim di Purwokerto, Bunda Anis berdomisili di Kabupaten Cilacap. Disana, ia menjadi penggerak  taman dawis di lingkungan RT. Taman dawis yang ia bentuk pun banyak menghasilkan prestasi di tingkat RT maupun RW. Pada tahun 2011, Bunda Anis berpindah domisili ke Purwokerto. Walaupun harus berpindah domisili, kiprahnya sebagai penggerak taman dawis tidak lantas  terhenti. Saat ini ia masih aktif sebagai penggerak PKK di bidang pemuliaan tanaman sayur dan tanaman obat keluarga (TOGA) di wilayah Bancarkembar, Purwokerto Utara. Beberapa tanaman yang dapat ditemui di rumah Bunda Anis adalah nanas, mangga, sawo, kelengkeng, pepaya, jeruk nipis, jambu, sereh, kencur, bengle, kumis kucing, jahe merah, kunci, salam, laos, lidah buaya, cabe, seledri, daun bawang, caisin, kangkung, dan kemangi. Seluruh tanaman tersebut tumbuh subur di pekarangan rumah.

Ketelatenannya dalam merawat tanaman telah banyak mengantarkan Taman DawisBancarkembar menjuarai berbagai lomba, seperti: Juara Harapan 2lomba Administrasi Taman Dawis, Tingkat Kabupaten Banyumas, Tahun 2013. Beliau menuturkan bahwa kunci merawat tanaman adalah jangan mudah bosan, jangan hanya suka menanam, tapi rawatlah tanaman itu dengan baik dengan rajin menyiram, memangkas, dan memberi pupuk. Jika tanaman tersebut dirawat, maka tanaman juga akan memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia. Ia sendiri telah merasakan manfaat kebun miliknya. Kebutuhan sayur dan buah harian dapat dipenuhi oleh kebunnya, sehingga ia tidak harus berbelanja ke pasar setiap hari. Saat pandemi seperti saat ini, hal tersebut dirasa cukup menguntungkan karena selain kontak fisik dengan orang lain dapat dibatasi, pengeluaran bulanan pun dapat ditekan. Kebun Bunda Anis tidak hanya memberikan manfaat baginya dan keluarga. Warga di sekitar rumah beliau juga merasakan manfaat dari kebun hijau miliknya. Contohnya, tetangga yang mengalami diare biasa memetik daun pegagan dan kunyit di pekarangannya untuk dijadikan obat. Daun alpukat ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai obat hipertensi. 

 Baru-baru ini Bunda Anis mulai mengkreasikan resep makanan dengan hasil panen kebunnya. Beberapa resep yang telah ia bagikan kepada grup Relawan LLHPB PDA Banyumas adalah keripik pegagan dan nata de aloevera. Keripik pegagan terbuat dari daun pegagan yang dibalut dengan tepung yang telah dibumbui lalu digoreng kering, sehingga menghasilkan olahan krispi.

Menurut penuturan beliau, keripik pegagan ini banyak diminati tetangga dan ia telah beberapa kali menerima pesanan keripik pegagan ini. Nata de aloeveraadalah olahan nata yang berasal dari lidah buaya. Lidah buaya yang telah berbunga dipotong-potong lalu direbus beberapa kali. Lidah buaya yang telah direbus selanjutnya diberi gula dan air jeruk nipis sesuai selera, kemudian disimpan dalam lemari pendingin.  Pada ramadhan tahun ini, Bunda Anis dan ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya memanfaatkan nata de aloevera ini untuk membuat cocktail sebagai ifthor gratis.

Marilah kita warga ‘Aisyiyah Banyumas untuk meneladani kisah inspiratif Bunda Anis. Mulailah memanfaatkan lahan kosong di rumah kita untuk dijadikan sebagai kebun keluarga. Jangan khawatir jika bunda merasa  hanya memiliki lahan terbatas. Saat ini banyak metode-metode berkebun di lahan sempit, seperti vertical garden atau aquaponic. Bunda juga dapat memanfaatkan kemasan plastik sebagai media tanam. Hasil kebun yang bunda miliki selain bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga bisa dimanfaatkan sebagai ladang bisnis. Kebun keluarga juga bisa memberikan amal jariyah bagi bunda. Selama orang lain masih memanfaatkan hasil kebun kita, maka pahala akan masih terus mengalir.

 Selamat berkebun.....

Shared Post: